Protected: Soulmate (Fiction)

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

It was last night dream :)

Dear, you 🙂

I had a dream last night, it was about you and me. That was wonderful and amazing dream for me. You and I, in a beautiful place, I don’t know it was beach or lake, I’m not sure, but the things I really remember was, you hold my hand and we walk around together. You say, that you were broke up with your girl. That place (an beautiful place that I don’t know where) just reminds you about her, but I didn’t saw something miserable on your face. You where smile brightly and talk to me kindly.

I remember too, your friends was there. Your friends that I know them, know their face and their name and I had small chit chat before. They shouted of us, one of them told me that I should comfort you because you were trouble with broken heart. And I did, even I didn’t know the way how to make you feel better actually, but when you asked me to go with you, then I go. Even that time I was playing water with my friends. I go with you, my friends was stared on us. I didn’t care. We were holding hand.

We walk around the beach or lake (I’m not sure about it), actually I realized that was just a dream, I don’t know why I know that was just dream. But in my dream, that something like that just never show up on real life. I tried to trowed away that feel, doubt feel about real or dream. I enjoy the time with you, your warm hand were tightly hold my cold hand. Ah, I remember, that time, I wear short pants and tank top, my hair was drenched because I was playing water just then. I was worried about that, about what you thought about my physical but when I saw the smile on your face, I’m sure you hadn’t worry about it. I’m glad.

I knew it was a dream, even last night, when that dream just come. I knew it, for sure! but what I remember was, We were holding hand. So sweet. So imaginative. So good to be real. But, can I? Can I wish the dream became true? Can I wish that one day we can able to holding hand, walking together not only in my dream, but also for real? Can I?  As one, as future.

Love,

Daisy

The Song Of Different

Untuk kesekian kalinya cewek itu kembali memasukkan sebuah gorengan ke mulutnya. Tangannya masih memegang sebuah botol air mineral. Dia masih sibuk bicara ngalor ngidul nggak jelas dengan beberapa temannya. Tapi beberapa kali tatapannya tertuju pada seorang cowok yang duduk sendirian di bangku tak jauh dari mereka. Cowok itu asyik mendengarkan music dari earphone yang sedari tadi nangkring di telinganya.

“Iya, jadi kemaren itu gue kan baru pulang gitu, hahahahaha…” untuk kesekian kalinya sekelompok cewek itu menertawakan sesuatu yang nggak jelas, entah apa itu. Tatapan cewek itu kembali teralih ke cowok yang masih sibuk menggoyang-koyangkan kepalanya.

Keadaan di kantin saat itu memang tidak terlalu ramai. Jadi cewek itu lebih leluasa mengamati seseorang yang dia sukai. Matanya melirik kalung yang cowok itu kenakan, lalu dia tertawa kecil, tawa yang sedikit menyakitkan. Membuatnya sadar siapa dia, dan siapa cowok itu. Continue reading

Just Say “Sorry”

Ini adalah sequel dari “Beda”. Ngga bisa dibilang sequel juga sih. Soalnya ini kejadian saat mereka sedang jadian. Silahkan membaca

=========================================================================================

“Lakukan saja semaumu!” teriak Ciella pada cowok didepannya. Air matanya tiba-tiba turun, sial. Padahal dia tidak mau menangis didepan cowok itu. Kesal! Rasanya seperti tidak dihargai sama sekali. Cowok didepannya masih diam. Merasa bersalah, mungkin.

“Aku udah lakuin yang terbaik, tapi kalau kamu maunya kayak gitu. OK, fine!” lagi, cewek itu masih histeris, kesal dan marah. Heran, bagaimana mungkin dia masih sanggup bertahan dengan cowok itu selama hampir enam bulan. Padahal cowok itu tak pernah menghargainya. Yeah, setidaknya itu yang ada dikepala Ciella pada saat seperti ini.

“Aku benci kamu!” Ciella membalikkan badannya, pergi. Dia ingin cepat pergi dan membuang muka cowok tak berperasaan itu. Sementara cowok itu masih diam. Menyebalkan! Benar-benar menyebalkan.

“Jangan pergi,” cowok itu menahan tangan Ciella agar tidak pergi. Ciella menengok, cowok itu sama sekali tak memandangnya. Tatapan Vitto, -cowok itu- masih lurus kebawah. Entah apa yang dia lihat, kecoa, mungkin.

“Kenapa?” Tanya Ciella yang saat itu menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.

“Jangan pergi dan jangan menangis,” kali ini tatapan Vitto tertuju pada Ciella.

“Aku tak boleh pergi dan tak boleh menangis? Hemm?” kali ini giliran Ciella membuang tatapannya ke bawah, dilihatnya sepatunya yang usang. Suaranya melemah, lirih, seperti berkata untuk dirinya sendiri. Dia masih berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Continue reading

BEDA

“Aku tahu kau suka sama aku kan?” Tanya cowok keren didepan Ciella dengan logat batak.

“Maksud abang?” masih tak percaya dengan omongan cowok didepannya, gadis itu bertanya dengan tampang bodoh. Cowok didepannya memang selalu berbicara spontan.

“Aku udah tahu dari cara kau ngeliat aku pun aku tahu.” Ciella bengong dan bengong lagi. Entah dari mana cowok itu menemukan rumus kalau Ciella menyukainya. Oh fine, Ciella memang menyukainya, sejak pertama dia masuk kekampus ini.

“Iya kan?” cowok itu semakin menuntut jawaban, membuat Ciella semakin tertunduk malu. Tatapan cowok itu semakin dalam memperhatikan Ciella. Rasanya sekarang ini isi hati Ciella sedang ditelanjangi oleh sosok didepannya. Bagaimana ini? Apakah dia salah telah menyukai seniornya itu?

“Maaf bang,” hanya kata itu yang terlontar dari mulut Ciella yang masih menundukan kepalanya.

“Jadi benar kan, suka kau sama aku?” Ciella menangguk pasrah. Cowok itu juga ikut mengangguk paham. Rasanya saat ini Ciella ingin meloncat dari lantai lima gedung kampusnya. Dia benar-benar malu dengan hal ini.

“Baiklah.” Hanya itu. Hanya itu kata yang keluar dari mulut cowok itu setelah sukses membuat Ciella merasa ditelanjangi seluruh perasaannya.

Continue reading

CINTA DIHATI RETRA

“Apa aku ngga salah denger Ndra?” teriak Retra mendengar ucapan cowok didepannya

“Engga Ret, aku emang harus pergi kesana” jawab Andra menyakinkan kekasih tercintanya itu

“Tapi untuk apa? Toh masih banyak temen kamu yang lain yang bisa gantiin kamu, kenapa juga harus kamu, disana kita ngga bisa berkomunikasi Ndra, ngga ada satupun orang yang akan tahu kabar kamu disana” mata Retra memerah menahan rasa dihatinya

Andra memegang bahu Retra, menatap lurus kemata gadis itu, “Aku akan baik-baik saja Ret, itu hanya untuk sebulan ngga lebih”

Retra menepis tangan Andra, dia mengusap air mata yang telah nekat turun membasahi pipinya, “Tapi Ndra, disana itu bahaya. Itu daerah konfik, jangankan sebulan, sejam aja disana belum tentu kamu selamet, aku mohon Ndra kamu tolak kerjaan itu, aku butuh kamu disini” Retra tak bisa lagi menahan perasaannya

Andre menggelengkan kepalanya, “ Engga Ret, ini udah tugas aku sebagai wartawan, kamu tahu kan aku amat menginginkan pekerjaan ini. Saat ini adalah kesempatannya untuk aku buktiin keorang tuaku bahwa aku bisa jadi wartawan yang baik, aku mohon Ret kamu percaya sama aku”

“Ndra, aku tahu itu tapi ini tugas pertama kamu, kenapa harus kedaerah konflik sih? Please Ndra, aku sayang sama kamu, aku ngga mau kehilangan kamu” serak sudah suara Retra

“Retra, aku juga sayang sama kamu, dan untuk itu aku berjanji akan kembali disini untukmu” Andra memeluk Retra. Retra benar-benar sudah tak bisa menghalangi keinginan keras arjunanya untuk bertualang.
Continue reading